Rabu, 27 Mei 2009

Kutemukan Pelangi di Matamu

"Sebagai seorang istri pejabat Lokal Staff KBRI, aku sungguh amat bahagia dengan suami yang menurutku cukup tampan, cerdas dan pengertian. Kebahagian itu kian lengkap dengan hadirnya buah hati kami yang sekarang sudah tiga anak."
Sebelum menikah aku berpikir bagaimana seorang mahasiswa miskin nekat untuk menikahiku? Apa dengan keahliannya dalam berorganisasi akan membuat hidup tercukupi? Waktu itu aku serba salah memutuskan. Kukumpulkan saran teman-teman yang sudah berkeluarga untuk meyakinkan hatiku. Karena aku pikir, nikah bukan suatu permainan yang bisa seenaknya saja diputuskan. Nikah adalah suatu yang amat sakral. Dan permasalah utama terletak pada calon suamiku yang masih seorang mahasiswa S2 dan tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Meski aku tahu sendiri bagaimana dia dalam bersosialisasi, bagaiamana studinya dan bagaimana kedewasaannya dalam menyikapi masalah, tapi bukan berarti segampang itu memutuskan nikah dengannya. Jujur jika kukatakan aku tidak naksir padanya sungguh bohong. Karena banyak teman-teman mahasiswi Indonesia yang membicarakannya. Walau hanya membicarakannya, tapi bagi seorang mahasiswa yang aktifis sepertinya merupakan suatu yang amat hebat.
Lewat pertemuan-pertemuan selanjutnya ia berusaha meyankinkanku. Ia berjanji akan bekerja banting-tulang demi kehidupan yang akan kami jelang. "Aku bisa bekerja sebagai penerjemah dan jadi broker tiket. Aku pun mau seandainya benar-benar terpepet, jadi koki di sebuah rumah makan. Tapi mohon demi Allah, jika kamu mau kunikahi, maka semangatku dalam menempuh hidup ini akan bertambah. Kumohon kamu yakinlah pada Allah. Karena Allahlah yang yang mencukupi hamba-hamba-Nya."
Aku masih belum mengerti apa yang diucapkannya. Sebagai seorang mahasiswi baru, memikirkan pernikahan adalah suatu yang amat jarang. Apalagi jika dilihat dari segi umur. Umurku terpaut 4 tahun lebih muda. Ia waktu itu mengambil S2 di Al Azhar. Sedang aku baru saja menapaki dunia baru kuliah di Bumi Musa ini. Namun jika melihat keseriusan yang tersirat dari wajahnya, amatlah sangat tidak adil jika aku langsung menolaknya. Sungguh tak ada alasan pun untuk menolak cintanya. Atau katakanlah aku naksir padanya dari awal kami bertemu.
"Sudah begini saja, jika aku meminta nomer telpon orang tua kamu bagaimana?" tanyanya. Aku kaget bukan main!
"Untuk apa?" tanyaku cepat.
Ia garuk-garuk kepala. "Aku yang akan bilang semua pada orang tua kamu. Aku sudah siap Ria. Aku sungguh sudah siap nikahinmu. Aku hanya ingin bilang aku ingin melamarmu. Aku ingin hubungan ini benar-benar diketahui orang tua kita."
Meski masih ragu dan takut pada apa yang akan terjadi nanti, aku pun memberinya nomer telpon rumah. Hari-hari menunggu kabar apa yang terjadi itu, sungguh membuatku tersiksa. Jika Abah tidak marah, berarti dia lelaki yang hebat. Jika marah, yang kena damprat pasti aku. Oh Tuhan, bahaya..
Seminggu setelah itu dengan wajah gembira ia mengajakku bertemu di Lestoran El Mo'men Tahrir. "Abahmu sudah setuju dengan pernikahan kita." Aku terlonjak mendengar ucapannya. Antara bahagia dan ragu.
"Kakak bilang apa pada Abah?" tanyaku.
Ia mengkerlingkan mata. "Kakak bilang bahwa kakak mahasiswa S2 yang tidak ada kehebatan sama sekali. Seorang yang hanya mengandalkan beasiswa dari Al Azhar dan bisnis penjualan kartu telp SS Fone. Jika bapak berkenan, aku akan menikahi anak bapak dan berusaha membahagiakannya. Meski tidak tahu bagaimana membahagiakannya. Tapi sungguh aku benar-benar ingin belajar memahami dan membahagiakan anak bapak. Sungguh aku benar-benar ingin menjalankan sunnah rasul. Itu yang kukatakan pada bapakmu."
"Terus apa jawab Abah?"
"Bapakmu sih terserah kamu. Jika memang kamu mau, bapakmu juga setuj

0 komentar: