Baginya, pagi itu adalah hari-hari paling memilukan dalam kehidupan Salwa. Ia benar-benar sedih. Duka yang menindihnya begitu berat. Masalah yang dihadapinya sangatlah melelahkan. Tak ada yang disebutnya kecuali hanya Allah. Ia yakin dalam keadaan segenting apapun, Allah tetap sayang padanya. Bukti sayang itu adalah cobaan yang diperuntukkannya dan keluarganya. Sepedih apapun cobaan ia masih ingin menunjukkan bahwa ia adalah hamba-Nya yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ia sangat yakin orang-orang yang bertaqwa pada Allah akan selalu dibukakan pintu hikmat. Dicarikan jalan termudah dan akan keluar dari masalah dengan ketentraman-ketentraman. Ia sungguh yakin hal itu. Tapi pagi itu ia bagai manusia yang hidup sendiri. Tak ada lagi yang menolongnya. Seakan-akan dunia ini diciptakan untuk orang lain. Kemanakah orang-orang senegerinya saat ia dirundung masalah seperti itu? Ingin sekali ia menangis. Lewat tilawah yang dia baca malah membuatnya kian pedih dan perih. Ia teringat lagi kisah-kisah manusia pilihan dalam al Qur'an. Mereka menuai takdir dengan duka yang berkepanjangan. Tapi karena kesabaran dan berserah diri, mereka menuai kebahagiaan di akhir cerita. Jika bukan di dunia, kebahagian itu pasti ada di akhirat. Bahkan Sayidina Husain, dimusuhi, dicaci dan dicemooh seluruh pengikut Mu'awiyah. Puncak prahara itu cucu nabi harus mengakhiri hayatnya dengan kepala yang terpotong dan diarak se-Jazeera Arab. Mengetahui hal itu, cobaan yang ia hadapi sungguh tak ada apa-apanya. Mungkin ibarat setetes noktah dibanding dengan lautan luas. Ia pasrah. Ia menangis lagi. Sungguh meski ia terdidik sebagai gadis yang tegar, sebagai anak Bawwab, tapi ia tetaplah manusia lemah.
Di matahattah Metro Tahrir itu ia terpaku sendiri. Dingin hari ini membuatnya sungguh tersiksa. Tapi penderitaan keluarganya lebih menyiksanya daripada puncak musim dingin yang melanda Kairo. Ia baru saja turun dari metro. Masih digenggamnya lembaran uang recehan dari orang-orang di Metro Anfaq. Ternyata tidak mungkin pula dengan uang recehan itu ia bisa menyelamatkan Baba-nya dari maut. Ia menangis lagi. Lalu digenggamnya pula al Qur'an. Seakan dengan menggenggamnya kuat ia ingin menemukan kekuatan dari sana.
Mahattah metro yang gelap itu seakan seperti ular besar yang menelannya bulat-bulat. Sekarang ia dalam kegelapan. Benar-benar dalam kegelapan. Ia merasa tak dalam ruangan yang tanpa ujung. Tanpa nama. Ia terlahir dari garis keturunan seorang penjaga apartemen di Rab'ah El Adawea Nasr City Kairo. Ia anak sebatang kara. Kakaknya telah mati tertabrak mobil yang melintas di depannya. Waktu itu ia masih sangat kecil.
Sementara itu, jika ia melihat anak-anak seusianya yang hidup berlimpahkan kasih sayang dari keluarganya, ia tidak. Ia dididik sebagai tukang pel apartemen. Itu ia jalani bersama mamanya tercinta sejak kecil. Ia gadis yang tangguh. Ia seorang wanita ksatria. Dan yang paling membanggakan, ia seorang gadis cerdas. Nilai ujian akhirnya selalu di atas rata-rata. Bahkan Baba-nya yang hanya seorang penjaga apartemen dibuatnya menitikkan air mata, ketika ditanyai TV Chanel 1 Mesir atas keberhasilan putrinya dalam Mutsabaqah Tilawatil Qur'an se-Mesir. Dari Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar hingga Tsanawi Al Azhar ia pasti nomer satu. Bahkan ia adalah gadis tercepat dalam hapalan al Qur'an di Al Azhar.
Di bangku kuliyah, ia ditawari tinggal di Sakan Univ. Al Azhar yang terletak di Hayyus Sadis. Tawaran itu adalah karena nilainya yang tinggi. Namun ia menolaknya. Ia ingin berbakti pada orang tuanya. Karena ia yakin orang tuanya yang sudah tua direnggut usia itu tak mungkin hidup sendiri. Apalagi menjalani garis hidup sebagai Bawwab. Gadis cerdas itu tak seindah nasibnya.
Sebelumnya, seminggu ini mamanya juga naik-turun bis dengan mengangsurkan selembar kertas. Kertas itu bertuliskan sebuah dalil Al Qur’an dari surat Al Baqarah ayat 261; “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Dengan membaca ayat itu, mamanya ingin mengetuk pintu hati mereka; orang-orang seiman dan se-Tuhan. Sayang, hingga sepekan naik-turun bis, yang mamanya dapati hanya sebuah wajah dingin. Sesekali ada senyum mengejek yang tersirat. Ah, adakah orang-orang itu tahu bahwa suaminya sekarang sedang terbujur tanpa daya? Adakah mereka tahu bahwa lelaki ringkih itu kini meringkuk menunggu pertolongan. Dan tak ada pertolongan yang lebih diharapnya kecuali dari Allah Swt. Adakah mereka tahu, jika seorang yang merahmati di bumi, maka akan dirahmati di langit? Tentu saja mereka tahu.
Salwa teringat lagi ketika ia bersusah-payah mendatangi seorang dokter. Ia papah tubuh ringkih Baba-nya supaya berjalan satu kilo. Dengan menahan sakit dan kelu, sampai juga Baba-nya pada dokter Romy belakang Masjid Rab’ah. Harapannya besar agar dokter itu menolong. Namun tidak. Dokter itu malah menghardik Salwa ketika Salwa hanya menyerahkan lima pound padanya.
“Eh dzah?! Apa kau ingin menertawakanku dengan uang lima pound ini, hah?! Dengar kau, gadis bercadar, dengan uangmu ini kau hanya bisa membeli suntikan saja!,” seru dokter. Ia mengambil lagi resep yang ada di tangan Salwa. “Kecuali kau mau bermalam bersamaku. Aku akan memberikan pengobatan gratis pada Baba-mu hingga sembuh. Bagaimana?” tambahnya terkekeh. Mata dokter itu nyalang seperti ingin menelanjangi Salwa.
Mengetahui perlakuan dokter Romy, Baba-nya bangkit. “Bajingan! Yahrubbaitak[1]!” giginya gemeretakan menahan amarah. Meski lelaki tua dan botak itu sesunggunya tak sanggup untuk berbicara kasar, tapi hal itu terpaksa ia lakukan.
“Sudahlah, Baba. Sudah,” pinta Salwa mengelus pundak Baba-nya.
“Mati pun aku rela asal kesucian anak gadisku terjaga! Bagiku, kesucian keluargaku sama halnya kesucian Islam. Ayo kita pergi dari tempat laknat ini, Salwa!” tegas Baba-nya meradang.
Suatu ketika pula, ia hendak mendatangi rumah sakit Al Azhar. Di rumah sakit itu, seorang murid Al Azhar bebas berobat apa saja dengan gratis jika ia mendapat pengakuan kuliyah bahwa dia tidak bisa berobat. Dalam hal itu Salwa termasuk. Namun karena Baba-nya bukanlah murid Al Azhar, ia pikir dokter Al Azhar pun akan menolaknya. Dan dokter paling-paling akan mengatakan seperti ini.
“Bukan karena kita tidak kasihan. Tapi peraturan yang ada dalam rumah sakit ini memang seperti itu.” Salwa kembali linglung.
“Ya, tentu saja semua tahu aku ini anak Bawwab i’marah. Semua tahu aku tak bisa mendapat penghargaan dari orang kecuali dengan caci mereka. Dan semua juga tahu, keluargaku miskin tanpa rumah. Hanya numpang di apartemen orang. Tentu siapa saja mereka pantas mencela.” Berkali-kali dirinya meyakinkan dengan kalimat tersebut.
Salwa mendesah lagi. Ia sungguh sudah putus asa. Jika dulu Baba-nya tidak nyambi pekerjaan sebagai tukang sapu jalanan? Jika dulu Baba-nya hanya duduk di rumah, menjaga apartemen, mengepel anak tangga dan mengambil sampah-sampah dari setiap flat apartemennya, mungkin marabahaya yang mengerikan itu tentu tidak akan datang. Namun apa yang ia sesalkan jika sudah seperti itu? Dan saat ia tahu lagi, ia kini telah masuk pada perguruan tinggi di al Azhar. Dengan itu pula, Baba-nya harus lebih aktif mencari uang. Tanpa kerja sampingan, mampukah ia meniti hidup di kuliah, dengan biaya pembelian diktat dan segala macam buku referensi? Meski ia sendiri tahu al Azhar bukanlah sebuah Universitas yang membebani mahasiswanya dengan biaya kuliah. Tapi untuk biaya seperti itu mampukah ia?
[1] Sumpah serapah orang Mesir. Yang artinya, semoga rumahmu roboh.
|
0 komentar:
Posting Komentar