Rabu, 27 Mei 2009

Bunda, Biarkan Aku Bersimpuh

Bunda, seharusnya malam ini aku datang dan bersimpuh di kakimu. Sambil bercerita tentang cinta dan kerinduan. Betapa setelah berpisah seperti ini, ingin rasanya aku mengutuki ketidakpatuhanku padamu. Atau membayangkanmu sedih sedang aku tertawa-tawa. Atau mengingatmu berpagi-pagi bangun dan memasakkan nasi untukku. Atau membayangkanmu membelai lembut kepalaku saat hendak ke sekolah. Atau membayangkanmu terjaga saat badanku sedang demam. Atau mengingatmu menjadi guru bahasa untuk pertama kali. Dan kalimat yang aku sebut bukan lain adalah ibu. Atau mengingatmu mengantarkankanku ke sekolah untuk pertama kali, menyusuri jalanan berdebu, berlubang dengan kubangan air. Mengingat semua itu membuatku semakin perih karena ternyata kau masih jauh di sana, sedang aku di sini melalui malam-malamku di negeri asing. Tanpa belas-kasih siapapun kecuali Allah.
Bagaimana kau di sana bunda? Apa kau sudah makan? Ataukah kau sedang sakit sekarang karena menanti kepulanganku setiap saat. Atau sedang melingkari tanggalan dengan harapan pada tanggal tertentu kau bisa berjumpa denganku? Ataukah kau kini sedang terjaga sambil mencucurkan airmata dan berdoa demi keselamatan dan kesuksesan putramu di sini? Atau engkau sedang meneteskan keringat demi sesuap nasi untuk makan besok? Meski keterpisahan ini banyak kegembiraan kudapat, tapi aku juga menuai banyak kepedihan dan sakit.

Dari foto yang aku dapat dari adik, bunda terlihat sangat kurus dan pipi yang dulu kencang sekarang termakan kerut-merut. Mungkin rambut bunda yang berkilau hitam sekarang telah terjalari uban dari halai demi helai. Tentu juga ketegaran dan kekuatan yang dulu bunda pintal waktu muda sekarang telah berkurang dimakan waktu. Dan yang paling menyakitkan, umur berganti bukan berarti panjang umur, tapi berkurang. Pasti banyak harapan yang kau ingin sebelum malaikat datang menjemputmu. Aku berharap Allah selalu meberikan umur berkah padamu, Bunda..

Bunda, dalam umurmu yang menua seperti ini, tentu banyak hal yang kau ingin. Jika disebut satu persatu biarpun tangan seorang penulis tak akan mampu menyebutkannya. Saking banyak hasrat yang terpendam dalam hatimu saat ini. Tapi yang pasti, bunda ataupun ibu manapun di dunia ini tak ingin melewati masa tuanya tanpa melihat kebahagian putra-putrinya. Tak ada yang lebih penting dari menyaksikan anak-anak menjadi seorang sukses. Oh apalagi jika menyaksikan tawa cucu-cucu dalam belaian bunda nanti. Semoga waktu-waktu itu tidak cepat berlari. Semoga Allah Maha Agung memberikan kemurahan dapat menyaksikan hal itu hingga berpuluh tahun.

"Kapan kamu pulang, Le?" tanyamu di telpon tempo hari. Waktu itu tak tahu harus bagaimana aku menjawab. Setiap kali telpon seperti itulah yang sering terlontar.

Mungkin aku akan menjawab bulan Juli, Bu, pas liburan musim panas nanti. Tapi ternyata sudah empat musim panas kau lewati dan aku belum juga pulang. Ah, betapa berdosanya anakmu ini bunda...

Lalu kau bercerita banyak hal. "Itu lho Le.. Ruken, temenmu SD dulu, sudah nikah kemarin. Dia sekarang kerja jadi kernet."

"Oh ya?" timpalku.

"Lha iya. Patmo sekarang malah pulang-pulang dari Malaysia bisa bangun rumah untuk ibunya. Eh, malah ibunya dibelikan kalung dan gelang gede-gede.."

"Oh ya?" begitu lagi timpalku sambil menahan kesedihan yang tiba-tiba melembaga dalam hati.

"Iya Le.. Apalagi Tukiyem, temenmu main pasar-pasaran dulu, sekarang sudah punya anak lucu-lucu. Dia nikah sama anake wong kaya. Kiosnya aja tiga di Pasar Bitingan Kudus."

Kutahan sekuat mungkin air mataku agar tidak tumpah. Tapi ternyata aku tak bisa dan tiba-tiba suaraku terbata. "Oh ya??"

"Lho, kamu kenapa Le?"

"Enggak Bu, aku kangen ibu aja.."

"Kamu kangen masakan ibu?"

"I.. Iya.."

"Kangen masakan apa?"

"Botok teri dan pepesan udang, juga sambel gopok."

Oh Tuhan.. ternyata airmataku bercucuran deras.

"Lha kamu pulang kapan?" tanya ibu lagi.

Berapa ratuskah pertanyaaan itu keluar dari ibu? Sepuluh kali? Seratus kali? Oh atau lebih dari itu? Aku tak menjawab dan kutahan tangisku sekuat mungkin sambil melemparkan pandangan keluar jendela. Malam beku menyelimuti Kairo. Udara dingin menusuk tulang dan ternyata kesedihan tak membuatku merasakannya sama sekali. Yang kurasakan hanya ingin bersimpuh di kakimu bunda.

Kuatur napasku agar tak terdengan menangis. "Doakan saja bunda semoga dua tahun lagi selesai. Doakan saja biar dua bukuku tahun ini laris. Biar bisa beli tiket untuk pulang dan beliin kalung bunda."

"Iya, ibu pasti selalu mendoakan."

"Maafkan kalau mungkin sekarang aku belum bisa seperti temen-temenku yang ibu sebutkan. Tapi Allah pasti memilihkan jalan yang lain. Jalan yang mungkin ibu tidak bisa sangka-sangka suatu ketika nanti."

"Ibu sudah bangga kok sama kamu. Ibu bangga sekali punya anak yang jadi penulis. Setiap kali pengajian, ibu selalu bawa buku-buku kamu dan ibu perlihatkan pada semua orang. Ini lho, anak ibu yang di Mesir. Ibu bangga lagi karena ilmumu bermanfaat untuk semua orang Le.. Ilmumu itu kata pak ustadz akan selalu ada meski kamu sudah tidak ada nanti. Kamu lihat aja karya-karya ulama-ulama seperti Imam Syafi'i. Meski sudah meninggal tapi tetap dikenang karyanya. Ibu sangat bangga pokoknya sama kamu."

Aku berusaha tak menangis di depan ibu. Kutahan terus airmataku meski tiba-tiba berlinangan turun bahasi pipiku. "Terimakasih ibu. Aku selalu mengingat ibu dalam setiap tulisanku. Karena setiap kali aku menulis yang kuingat adalah satu wajah, ibu aja."

"Cepatlah pulang Nak. Ibu ingin sekali memeluk putra tercintanya."

"Iya Ibu, aku janji..."





Cairo, 22 Desember 2008

Di tengah badai dingin yang melanda Kairo.

0 komentar: