Kamis, 28 Mei 2009

Dikotomi Sastra Islam?


Sering kali dalam acara pelatihan menulis di Kairo, saya ditanyatai tentang perbedaan sastra Islami ataupun lain Islami. Beberapa penanya malah sempat melontarkan gagasan bahwa sastra itu haram, karena di samping membohongi publik, sastra juga memunculkan imajinasi yang susah ditangkap manusia. Lalu benarkah Islam mengharamkan sastra?
Sastra Islam.
Sebelum kita membahasa tentang sastra Islam, lebih dahulu kita mengenal sastra Jahili, karena perkembangan sastra Islam itu didasari dengan sastra Jahili yang lebih dulu berkembang sebelum datangnya Islam di Jazirah Arab.

Dalam Tarikhul Adab Fakultas Bahasa Arab Univ. Al Azhar, yang kebetulan saya di fakultas itu, sastra Arab berkembang jauh sebelum ratusan tahun Islam datang. Beberapa tokoh penyair kenamaan waktu itu dijuluki sebagai Al Mu'allaqat (yang digantungkan). Mu'allaqat berarti juga syair yang digantungkan di atas Ka'bah. Pada zaman Jahiliyah dulu, seorang penyair yang menang dalam sayembara sastra di Pasar Ukadz maka akan mendapatkan gelar Mu'allaqat. Dan sajak-sajaknya digantungkan di ka'bah sebagai hiasan dan pajangan. Beberapa sastrawan Islam menyebutkan MU'allaqat itu hanya ada 7 penyair saja; di antaranya, Nabighah Adzibyani, Al A'sya, Syanfari dan lain-lain.

Dalam perkembangannya sastra Jahili hanya berkutat pada beberapa metode sastra yang biasa diklarifikasi sebagai berikut;
1. Keindahan sastra yang ditampakkan
2. Kelihaian penyair dalam menyifati seorang
3. Jika menyifati seorang perempuan akan menyifati sampai melewati hal-hal yang tabu dan terkesal porno.
4. Jika syair kebanggaan, sastra Arab terkesan terlalu mendewakan orang yang dibanggakan itu
5. Setting tempat biasanya menggambarkan sahara, kuda, arak dan wanita.

Setelah datangnya Islam di tanah Arab, Nabi Muhammad menghimbau pada segenap sahabat dan pengikutnya untuk tidak menjadikan kebiasaan orang Jahili sebagai kebiasaan Islam. Meski berawal dari sedikit demi sedikit, akhirnya kebiasaan jahili pun dapat terkikis habis. Di sini bisa kita teleti bahwa kebiasaan itupun juga mempengaruhi perkembangan sastra. Nabi pun melarang sahabatnya untuk membuat syair yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti risa' (syair untuk kesedihan), thalalul Mar'ah (penyifatan perempuan) dan syair-syair dengan setting minuman keras dan lain-lain.

Hal yang menarik dalam syair Islami adalah:
1. sastra Islami terkesan beradab, dalam artian tidak selalu dengan bahasa yang melangit seperti yang ditemui dalam sastra Jahili.
2. Sastra Islami juga mengharamkan penyifatan perempuan dengan keseksiannya.
3. Sastra Islami berawal dari syari'at Islam.
4. Sastra Islami tidak terlepas dari AL Qur'an dan Al Hadist.
5. Sastra Islami muncul sebagai ketidakpuasan sastra Jahili yang parah dan tidak mendidik.
6. Sastra Islami mau mencounter masalah demi masalah yang ada pada waktu itu.

Dalam sejarah sastra banyak kalangan menilai sastra Islami adalah sastra yang mendidik juga sastra yang mampu membalikkan keadaan dari keterpurukan pada keindahan ISlam yang sesungguhnya. Beberapa tokoh penyair kenamaan waktu itu bisa kita sebutkan; Hasan Bin Tsabit, Abdullah Bin Rawwahah, Mu'an Bin Aus dan yang lain.

Dari sudut lain, jika kita sudah mengenal sastra Islami dengan beberapa sudut pandang sejarah, kita juga mengenal sastra Islami dari sudut pandang agama. Dalam Asy Syu'ara' Allah dengan jelas mengharamkan syair jahili. Jika sudah tahu tentang dua ide dari sastra Jahili dengan sastra Islami, apakah sebagai insan yang suka dalam dunia sastra, kita masih mendebat dikotomi sastra Islam? Ataukah kita malah mengemukakan pendapat bahwa sastra itu tetap haram? Itu terserah pribadi masing-masing. Wallahu a'lam.


Penulis novel "Mengapung Bersama Nil" dan juga Ketua FLP Mesir.


Baca Selengkapnya...

Rabu, 27 Mei 2009

Ketika Duka Berlabuh

Baginya, pagi itu adalah hari-hari paling memilukan dalam kehidupan Salwa. Ia benar-benar sedih. Duka yang menindihnya begitu berat. Masalah yang dihadapinya sangatlah melelahkan. Tak ada yang disebutnya kecuali hanya Allah. Ia yakin dalam keadaan segenting apapun, Allah tetap sayang padanya. Bukti sayang itu adalah cobaan yang diperuntukkannya dan keluarganya. Sepedih apapun cobaan ia masih ingin menunjukkan bahwa ia adalah hamba-Nya yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ia sangat yakin orang-orang yang bertaqwa pada Allah akan selalu dibukakan pintu hikmat. Dicarikan jalan termudah dan akan keluar dari masalah dengan ketentraman-ketentraman. Ia sungguh yakin hal itu.
Tapi pagi itu ia bagai manusia yang hidup sendiri. Tak ada lagi yang menolongnya. Seakan-akan dunia ini diciptakan untuk orang lain. Kemanakah orang-orang senegerinya saat ia dirundung masalah seperti itu? Ingin sekali ia menangis. Lewat tilawah yang dia baca malah membuatnya kian pedih dan perih. Ia teringat lagi kisah-kisah manusia pilihan dalam al Qur'an. Mereka menuai takdir dengan duka yang berkepanjangan. Tapi karena kesabaran dan berserah diri, mereka menuai kebahagiaan di akhir cerita. Jika bukan di dunia, kebahagian itu pasti ada di akhirat. Bahkan Sayidina Husain, dimusuhi, dicaci dan dicemooh seluruh pengikut Mu'awiyah. Puncak prahara itu cucu nabi harus mengakhiri hayatnya dengan kepala yang terpotong dan diarak se-Jazeera Arab. Mengetahui hal itu, cobaan yang ia hadapi sungguh tak ada apa-apanya. Mungkin ibarat setetes noktah dibanding dengan lautan luas. Ia pasrah. Ia menangis lagi. Sungguh meski ia terdidik sebagai gadis yang tegar, sebagai anak Bawwab, tapi ia tetaplah manusia lemah.

Di matahattah Metro Tahrir itu ia terpaku sendiri. Dingin hari ini membuatnya sungguh tersiksa. Tapi penderitaan keluarganya lebih menyiksanya daripada puncak musim dingin yang melanda Kairo. Ia baru saja turun dari metro. Masih digenggamnya lembaran uang recehan dari orang-orang di Metro Anfaq. Ternyata tidak mungkin pula dengan uang recehan itu ia bisa menyelamatkan Baba-nya dari maut. Ia menangis lagi. Lalu digenggamnya pula al Qur'an. Seakan dengan menggenggamnya kuat ia ingin menemukan kekuatan dari sana.

Mahattah metro yang gelap itu seakan seperti ular besar yang menelannya bulat-bulat. Sekarang ia dalam kegelapan. Benar-benar dalam kegelapan. Ia merasa tak dalam ruangan yang tanpa ujung. Tanpa nama. Ia terlahir dari garis keturunan seorang penjaga apartemen di Rab'ah El Adawea Nasr City Kairo. Ia anak sebatang kara. Kakaknya telah mati tertabrak mobil yang melintas di depannya. Waktu itu ia masih sangat kecil.

Sementara itu, jika ia melihat anak-anak seusianya yang hidup berlimpahkan kasih sayang dari keluarganya, ia tidak. Ia dididik sebagai tukang pel apartemen. Itu ia jalani bersama mamanya tercinta sejak kecil. Ia gadis yang tangguh. Ia seorang wanita ksatria. Dan yang paling membanggakan, ia seorang gadis cerdas. Nilai ujian akhirnya selalu di atas rata-rata. Bahkan Baba-nya yang hanya seorang penjaga apartemen dibuatnya menitikkan air mata, ketika ditanyai TV Chanel 1 Mesir atas keberhasilan putrinya dalam Mutsabaqah Tilawatil Qur'an se-Mesir. Dari Madrasah Ibtidaiyah atau Sekolah Dasar hingga Tsanawi Al Azhar ia pasti nomer satu. Bahkan ia adalah gadis tercepat dalam hapalan al Qur'an di Al Azhar.

Di bangku kuliyah, ia ditawari tinggal di Sakan Univ. Al Azhar yang terletak di Hayyus Sadis. Tawaran itu adalah karena nilainya yang tinggi. Namun ia menolaknya. Ia ingin berbakti pada orang tuanya. Karena ia yakin orang tuanya yang sudah tua direnggut usia itu tak mungkin hidup sendiri. Apalagi menjalani garis hidup sebagai Bawwab. Gadis cerdas itu tak seindah nasibnya.

Sebelumnya, seminggu ini mamanya juga naik-turun bis dengan mengangsurkan selembar kertas. Kertas itu bertuliskan sebuah dalil Al Qur’an dari surat Al Baqarah ayat 261; “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Dengan membaca ayat itu, mamanya ingin mengetuk pintu hati mereka; orang-orang seiman dan se-Tuhan. Sayang, hingga sepekan naik-turun bis, yang mamanya dapati hanya sebuah wajah dingin. Sesekali ada senyum mengejek yang tersirat. Ah, adakah orang-orang itu tahu bahwa suaminya sekarang sedang terbujur tanpa daya? Adakah mereka tahu bahwa lelaki ringkih itu kini meringkuk menunggu pertolongan. Dan tak ada pertolongan yang lebih diharapnya kecuali dari Allah Swt. Adakah mereka tahu, jika seorang yang merahmati di bumi, maka akan dirahmati di langit? Tentu saja mereka tahu.

Salwa teringat lagi ketika ia bersusah-payah mendatangi seorang dokter. Ia papah tubuh ringkih Baba-nya supaya berjalan satu kilo. Dengan menahan sakit dan kelu, sampai juga Baba-nya pada dokter Romy belakang Masjid Rab’ah. Harapannya besar agar dokter itu menolong. Namun tidak. Dokter itu malah menghardik Salwa ketika Salwa hanya menyerahkan lima pound padanya.

“Eh dzah?! Apa kau ingin menertawakanku dengan uang lima pound ini, hah?! Dengar kau, gadis bercadar, dengan uangmu ini kau hanya bisa membeli suntikan saja!,” seru dokter. Ia mengambil lagi resep yang ada di tangan Salwa. “Kecuali kau mau bermalam bersamaku. Aku akan memberikan pengobatan gratis pada Baba-mu hingga sembuh. Bagaimana?” tambahnya terkekeh. Mata dokter itu nyalang seperti ingin menelanjangi Salwa.

Mengetahui perlakuan dokter Romy, Baba-nya bangkit. “Bajingan! Yahrubbaitak[1]!” giginya gemeretakan menahan amarah. Meski lelaki tua dan botak itu sesunggunya tak sanggup untuk berbicara kasar, tapi hal itu terpaksa ia lakukan.

“Sudahlah, Baba. Sudah,” pinta Salwa mengelus pundak Baba-nya.

“Mati pun aku rela asal kesucian anak gadisku terjaga! Bagiku, kesucian keluargaku sama halnya kesucian Islam. Ayo kita pergi dari tempat laknat ini, Salwa!” tegas Baba-nya meradang.

Suatu ketika pula, ia hendak mendatangi rumah sakit Al Azhar. Di rumah sakit itu, seorang murid Al Azhar bebas berobat apa saja dengan gratis jika ia mendapat pengakuan kuliyah bahwa dia tidak bisa berobat. Dalam hal itu Salwa termasuk. Namun karena Baba-nya bukanlah murid Al Azhar, ia pikir dokter Al Azhar pun akan menolaknya. Dan dokter paling-paling akan mengatakan seperti ini.

“Bukan karena kita tidak kasihan. Tapi peraturan yang ada dalam rumah sakit ini memang seperti itu.” Salwa kembali linglung.

“Ya, tentu saja semua tahu aku ini anak Bawwab i’marah. Semua tahu aku tak bisa mendapat penghargaan dari orang kecuali dengan caci mereka. Dan semua juga tahu, keluargaku miskin tanpa rumah. Hanya numpang di apartemen orang. Tentu siapa saja mereka pantas mencela.” Berkali-kali dirinya meyakinkan dengan kalimat tersebut.

Salwa mendesah lagi. Ia sungguh sudah putus asa. Jika dulu Baba-nya tidak nyambi pekerjaan sebagai tukang sapu jalanan? Jika dulu Baba-nya hanya duduk di rumah, menjaga apartemen, mengepel anak tangga dan mengambil sampah-sampah dari setiap flat apartemennya, mungkin marabahaya yang mengerikan itu tentu tidak akan datang. Namun apa yang ia sesalkan jika sudah seperti itu? Dan saat ia tahu lagi, ia kini telah masuk pada perguruan tinggi di al Azhar. Dengan itu pula, Baba-nya harus lebih aktif mencari uang. Tanpa kerja sampingan, mampukah ia meniti hidup di kuliah, dengan biaya pembelian diktat dan segala macam buku referensi? Meski ia sendiri tahu al Azhar bukanlah sebuah Universitas yang membebani mahasiswanya dengan biaya kuliah. Tapi untuk biaya seperti itu mampukah ia?

[1] Sumpah serapah orang Mesir. Yang artinya, semoga rumahmu roboh.

Baca Selengkapnya...

Kutemukan Pelangi di Matamu

"Sebagai seorang istri pejabat Lokal Staff KBRI, aku sungguh amat bahagia dengan suami yang menurutku cukup tampan, cerdas dan pengertian. Kebahagian itu kian lengkap dengan hadirnya buah hati kami yang sekarang sudah tiga anak."
Sebelum menikah aku berpikir bagaimana seorang mahasiswa miskin nekat untuk menikahiku? Apa dengan keahliannya dalam berorganisasi akan membuat hidup tercukupi? Waktu itu aku serba salah memutuskan. Kukumpulkan saran teman-teman yang sudah berkeluarga untuk meyakinkan hatiku. Karena aku pikir, nikah bukan suatu permainan yang bisa seenaknya saja diputuskan. Nikah adalah suatu yang amat sakral. Dan permasalah utama terletak pada calon suamiku yang masih seorang mahasiswa S2 dan tidak mempunyai pekerjaan tetap.
Meski aku tahu sendiri bagaimana dia dalam bersosialisasi, bagaiamana studinya dan bagaimana kedewasaannya dalam menyikapi masalah, tapi bukan berarti segampang itu memutuskan nikah dengannya. Jujur jika kukatakan aku tidak naksir padanya sungguh bohong. Karena banyak teman-teman mahasiswi Indonesia yang membicarakannya. Walau hanya membicarakannya, tapi bagi seorang mahasiswa yang aktifis sepertinya merupakan suatu yang amat hebat.
Lewat pertemuan-pertemuan selanjutnya ia berusaha meyankinkanku. Ia berjanji akan bekerja banting-tulang demi kehidupan yang akan kami jelang. "Aku bisa bekerja sebagai penerjemah dan jadi broker tiket. Aku pun mau seandainya benar-benar terpepet, jadi koki di sebuah rumah makan. Tapi mohon demi Allah, jika kamu mau kunikahi, maka semangatku dalam menempuh hidup ini akan bertambah. Kumohon kamu yakinlah pada Allah. Karena Allahlah yang yang mencukupi hamba-hamba-Nya."
Aku masih belum mengerti apa yang diucapkannya. Sebagai seorang mahasiswi baru, memikirkan pernikahan adalah suatu yang amat jarang. Apalagi jika dilihat dari segi umur. Umurku terpaut 4 tahun lebih muda. Ia waktu itu mengambil S2 di Al Azhar. Sedang aku baru saja menapaki dunia baru kuliah di Bumi Musa ini. Namun jika melihat keseriusan yang tersirat dari wajahnya, amatlah sangat tidak adil jika aku langsung menolaknya. Sungguh tak ada alasan pun untuk menolak cintanya. Atau katakanlah aku naksir padanya dari awal kami bertemu.
"Sudah begini saja, jika aku meminta nomer telpon orang tua kamu bagaimana?" tanyanya. Aku kaget bukan main!
"Untuk apa?" tanyaku cepat.
Ia garuk-garuk kepala. "Aku yang akan bilang semua pada orang tua kamu. Aku sudah siap Ria. Aku sungguh sudah siap nikahinmu. Aku hanya ingin bilang aku ingin melamarmu. Aku ingin hubungan ini benar-benar diketahui orang tua kita."
Meski masih ragu dan takut pada apa yang akan terjadi nanti, aku pun memberinya nomer telpon rumah. Hari-hari menunggu kabar apa yang terjadi itu, sungguh membuatku tersiksa. Jika Abah tidak marah, berarti dia lelaki yang hebat. Jika marah, yang kena damprat pasti aku. Oh Tuhan, bahaya..
Seminggu setelah itu dengan wajah gembira ia mengajakku bertemu di Lestoran El Mo'men Tahrir. "Abahmu sudah setuju dengan pernikahan kita." Aku terlonjak mendengar ucapannya. Antara bahagia dan ragu.
"Kakak bilang apa pada Abah?" tanyaku.
Ia mengkerlingkan mata. "Kakak bilang bahwa kakak mahasiswa S2 yang tidak ada kehebatan sama sekali. Seorang yang hanya mengandalkan beasiswa dari Al Azhar dan bisnis penjualan kartu telp SS Fone. Jika bapak berkenan, aku akan menikahi anak bapak dan berusaha membahagiakannya. Meski tidak tahu bagaimana membahagiakannya. Tapi sungguh aku benar-benar ingin belajar memahami dan membahagiakan anak bapak. Sungguh aku benar-benar ingin menjalankan sunnah rasul. Itu yang kukatakan pada bapakmu."
"Terus apa jawab Abah?"
"Bapakmu sih terserah kamu. Jika memang kamu mau, bapakmu juga setuj

Baca Selengkapnya...

Bunda, Biarkan Aku Bersimpuh

Bunda, seharusnya malam ini aku datang dan bersimpuh di kakimu. Sambil bercerita tentang cinta dan kerinduan. Betapa setelah berpisah seperti ini, ingin rasanya aku mengutuki ketidakpatuhanku padamu. Atau membayangkanmu sedih sedang aku tertawa-tawa. Atau mengingatmu berpagi-pagi bangun dan memasakkan nasi untukku. Atau membayangkanmu membelai lembut kepalaku saat hendak ke sekolah. Atau membayangkanmu terjaga saat badanku sedang demam. Atau mengingatmu menjadi guru bahasa untuk pertama kali. Dan kalimat yang aku sebut bukan lain adalah ibu. Atau mengingatmu mengantarkankanku ke sekolah untuk pertama kali, menyusuri jalanan berdebu, berlubang dengan kubangan air. Mengingat semua itu membuatku semakin perih karena ternyata kau masih jauh di sana, sedang aku di sini melalui malam-malamku di negeri asing. Tanpa belas-kasih siapapun kecuali Allah.
Bagaimana kau di sana bunda? Apa kau sudah makan? Ataukah kau sedang sakit sekarang karena menanti kepulanganku setiap saat. Atau sedang melingkari tanggalan dengan harapan pada tanggal tertentu kau bisa berjumpa denganku? Ataukah kau kini sedang terjaga sambil mencucurkan airmata dan berdoa demi keselamatan dan kesuksesan putramu di sini? Atau engkau sedang meneteskan keringat demi sesuap nasi untuk makan besok? Meski keterpisahan ini banyak kegembiraan kudapat, tapi aku juga menuai banyak kepedihan dan sakit.

Dari foto yang aku dapat dari adik, bunda terlihat sangat kurus dan pipi yang dulu kencang sekarang termakan kerut-merut. Mungkin rambut bunda yang berkilau hitam sekarang telah terjalari uban dari halai demi helai. Tentu juga ketegaran dan kekuatan yang dulu bunda pintal waktu muda sekarang telah berkurang dimakan waktu. Dan yang paling menyakitkan, umur berganti bukan berarti panjang umur, tapi berkurang. Pasti banyak harapan yang kau ingin sebelum malaikat datang menjemputmu. Aku berharap Allah selalu meberikan umur berkah padamu, Bunda..

Bunda, dalam umurmu yang menua seperti ini, tentu banyak hal yang kau ingin. Jika disebut satu persatu biarpun tangan seorang penulis tak akan mampu menyebutkannya. Saking banyak hasrat yang terpendam dalam hatimu saat ini. Tapi yang pasti, bunda ataupun ibu manapun di dunia ini tak ingin melewati masa tuanya tanpa melihat kebahagian putra-putrinya. Tak ada yang lebih penting dari menyaksikan anak-anak menjadi seorang sukses. Oh apalagi jika menyaksikan tawa cucu-cucu dalam belaian bunda nanti. Semoga waktu-waktu itu tidak cepat berlari. Semoga Allah Maha Agung memberikan kemurahan dapat menyaksikan hal itu hingga berpuluh tahun.

"Kapan kamu pulang, Le?" tanyamu di telpon tempo hari. Waktu itu tak tahu harus bagaimana aku menjawab. Setiap kali telpon seperti itulah yang sering terlontar.

Mungkin aku akan menjawab bulan Juli, Bu, pas liburan musim panas nanti. Tapi ternyata sudah empat musim panas kau lewati dan aku belum juga pulang. Ah, betapa berdosanya anakmu ini bunda...

Lalu kau bercerita banyak hal. "Itu lho Le.. Ruken, temenmu SD dulu, sudah nikah kemarin. Dia sekarang kerja jadi kernet."

"Oh ya?" timpalku.

"Lha iya. Patmo sekarang malah pulang-pulang dari Malaysia bisa bangun rumah untuk ibunya. Eh, malah ibunya dibelikan kalung dan gelang gede-gede.."

"Oh ya?" begitu lagi timpalku sambil menahan kesedihan yang tiba-tiba melembaga dalam hati.

"Iya Le.. Apalagi Tukiyem, temenmu main pasar-pasaran dulu, sekarang sudah punya anak lucu-lucu. Dia nikah sama anake wong kaya. Kiosnya aja tiga di Pasar Bitingan Kudus."

Kutahan sekuat mungkin air mataku agar tidak tumpah. Tapi ternyata aku tak bisa dan tiba-tiba suaraku terbata. "Oh ya??"

"Lho, kamu kenapa Le?"

"Enggak Bu, aku kangen ibu aja.."

"Kamu kangen masakan ibu?"

"I.. Iya.."

"Kangen masakan apa?"

"Botok teri dan pepesan udang, juga sambel gopok."

Oh Tuhan.. ternyata airmataku bercucuran deras.

"Lha kamu pulang kapan?" tanya ibu lagi.

Berapa ratuskah pertanyaaan itu keluar dari ibu? Sepuluh kali? Seratus kali? Oh atau lebih dari itu? Aku tak menjawab dan kutahan tangisku sekuat mungkin sambil melemparkan pandangan keluar jendela. Malam beku menyelimuti Kairo. Udara dingin menusuk tulang dan ternyata kesedihan tak membuatku merasakannya sama sekali. Yang kurasakan hanya ingin bersimpuh di kakimu bunda.

Kuatur napasku agar tak terdengan menangis. "Doakan saja bunda semoga dua tahun lagi selesai. Doakan saja biar dua bukuku tahun ini laris. Biar bisa beli tiket untuk pulang dan beliin kalung bunda."

"Iya, ibu pasti selalu mendoakan."

"Maafkan kalau mungkin sekarang aku belum bisa seperti temen-temenku yang ibu sebutkan. Tapi Allah pasti memilihkan jalan yang lain. Jalan yang mungkin ibu tidak bisa sangka-sangka suatu ketika nanti."

"Ibu sudah bangga kok sama kamu. Ibu bangga sekali punya anak yang jadi penulis. Setiap kali pengajian, ibu selalu bawa buku-buku kamu dan ibu perlihatkan pada semua orang. Ini lho, anak ibu yang di Mesir. Ibu bangga lagi karena ilmumu bermanfaat untuk semua orang Le.. Ilmumu itu kata pak ustadz akan selalu ada meski kamu sudah tidak ada nanti. Kamu lihat aja karya-karya ulama-ulama seperti Imam Syafi'i. Meski sudah meninggal tapi tetap dikenang karyanya. Ibu sangat bangga pokoknya sama kamu."

Aku berusaha tak menangis di depan ibu. Kutahan terus airmataku meski tiba-tiba berlinangan turun bahasi pipiku. "Terimakasih ibu. Aku selalu mengingat ibu dalam setiap tulisanku. Karena setiap kali aku menulis yang kuingat adalah satu wajah, ibu aja."

"Cepatlah pulang Nak. Ibu ingin sekali memeluk putra tercintanya."

"Iya Ibu, aku janji..."





Cairo, 22 Desember 2008

Di tengah badai dingin yang melanda Kairo.

Baca Selengkapnya...

Dalam Bayangan Cinta

Dalam Bayangan Cinta
Arif Friyadi

Dzikir malam Khalis kali ini sangat panjang. Do’a demi do’a mengalir dari mulutnya. Hatinya benar-benar membuncah rasa galau yang tak terperikan. Sesekali ia terisak, menangis dan tak kuat menahan lelehan air matanya yang mengalir.
“Tunjukkan aku jalan-Mu ya Rabb... Tunjukkan aku jalan-Mu yang Kau ridlai..,” pintanya sambil tengadah terisak-isak. Malam telah larut. Hanya denting jam yang terasa kencang, disertai desau angin musim panas yang memukuli jendela kamarnya.

“Aku mohon Allahku.. Jika Engkau menghendaki salah satu dari mereka menjadi malaikat yang akan selalu menemani langkahku, dalam suka duka, maka tunjukkan padaku wahai Pencipta rindu.”
Malam itu, ia dibayang-bayangi dua perempuan anggun. Andin gadis yang selalu menjadi buah bibir mahasiswa Indonesia di Mesir. Bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi prestasi serta semangatnya dalam berbagai organisasi membuatnya benar-benar menjadi bidadarinya mahasiswi Indonesia di Mesir. Sementara itu, sepotong wajah lain juga membayanginya. Dialah Rima, putri Ketua Biro Haji Jawa Tengah. Ia kenal saat haji tahun ini. Lewat kesantunan Khalis dan rasa amanah yang selalu tampak dari wajahnya membuat Pak Naryo betul-betul ingin menyandingkan putrinya dengan Khalis. Sampai di Kairo, tiap minggu Khalis pasti ditanyai tentang keputusannya.
“Pokoknya Nak Khalis jika ingin apa saja minta sama bapak. Pasti bapak kasih.”
Suatu ketika juga Pak Naryo bilang, “Gimana, Nak Khalis? Apa sudah dipikirkan matang-matang?”
Atau, “Saya ingin sekali Nak Khalis yang meneruskan Biro Haji dan umrah milik Bapak. Yang penting Nak Khalis nikah dengan putri saya dulu. Biar nanti si Rima menemani Nak Khalis di Kairo sampai selesai Master.”
Ia masih terpekur di atas sepotong sajadahnya. Suara-suara itu seperti berdengungan di telinganya. Seperti datang dari tempat yang jauh. Dari negeri antah berantah. Tiba-tiba Hpnya berdering. Ada SMS masuk. Dibukanya.
“Kk Khalis, dah mkn belum? Jg keshtn y..Jgn lupa bljrny. Emmmuuuuuach...”
Ia beristighfar dalam hati. Kenapa setiap membaca SMS Rima ia selalu gelisah. Ia tahu meski itu hanya SMS, tapi kenapa harus ada cium-ciuman segala? Padahal hubungan sebelum menikah itu diharamkan agama. Ia kembali beristighfar. Ia ingat lagi Andin, Sekretaris Wihdah itu. Gaya bicaranya yang sangat lembut dan sopan. Pakaiannya yang selalu anggun. Bahkan ia tak pernah memakai celana meski dalam suasana apapun. Serta kecerdasannya yang sangat luar biasa. Di tahun ketiganya, Andin mengejutkan dengan prestasi jayyid jiddan di Fakultas Bahasa Arab. Prestasi yang amat sulit didapatkan oleh mahasiswi luar negeri sepertinya.
Khalis masih ingat, pada awal tahun Andin di Mesir, bapak Andin meninggal. Setiap kali gundah gulana, pasti Khalislah yang menjadi tempat curhat. Karena di samping dulu Khalis adalah satu almamater di Aliyah Kudus, ia juga kenal akrab keluarga Andin.
“Itu semua musibah, Nok . Nyawa, harta dan segala yang ada dalam kehidupan kita ini hanya titipan. Jika Allah memintanya, kita harus mengikhaskan.”
“Tapi kenapa harus tahun pertama, Kak? Kenapa Allah tidak meminta waktu aku sudah lulus nanti? Setelah aku menjadi Ustadzah seperti yang Bapak inginkan sebelum aku berangkat? Kenapa harus saat ini?”
“Itu karena Allah ingin mengukur sampai mana iman kamu. Bukankah kamu tahu, rasul kehilangan bapaknya sebelum beliau lahir di dunia ini. Dan ketika ia masih sangat kecil, Ibunda Rasul juga meninggal. Beliau sebatang kara. Tapi beliau tak mengeluh. Beliau tetap semangat menjadi pengembala domba, menjadi pedagang antar negara di Jazirah Arab, bahkan menjadi nabi panutan umat sedunia, Nok.
Dan kamu, sudah amat dewasa saat ditinggal bapakmu. Kamu juga sudah mengerti hitam putih kehidupan ini. Maka seharusnya, kamu lebih yakin bahwa setiap musibah Allah juga akan menggantikannya dengan kegembiraan.”
“Kegembiraan apa, Kak?! Apa kegembiraan ketika saya di sini dilepas tanpa sepeser pun uang dari ayahanda yang saya cintai? Apa itu kegembiraan ketika mati masih meninggalkan lima anak yang masih kecil?”
“Astaghfirullah... Istighfar, Nok? Kita tak tahu apa yang terjadi nanti, bukan? Kau tahu, betapa pilunya rasul ketika ditinggal pamannya yang selalu menolong beliau dari setiap perilaku keji kafir Quraisy? Lalu beliau juga ditinggal istri serta wanita pertama dalam kehidupannya, yaitu saiyadatina Khadijah. Perempuan yang tak pernah lelah mencurahkan kasih sayang, cinta bahkan harta untuk perjuangan Rasul. Perempuan yang ketika rasul tidak dipercayai, beliau pertama yang datang dan percaya atas kerasulan beliau. Perempuan yang rela hidup miskin dalam bayang-bayang kematian, pemboikotan kafir Quraisy. Padahal semua tahu, ia adalah putri keturunan bangsawan dan seorang Bisnis Girl tanah Arab waktu itu. Subhanallah.. Apa engkau tahu betapa pilunya Rasul? Ia juga sangat pilu sepertimu. Tapi setelah itu rasul mendapat kegembiraan berupa Isra’ mi’raj. Pergantian yang sangat tidak sebanding karena bertemu dengan Dzat Allah yang Maha Agung.”
Sejak saat itu, Andin berubah menjadi gadis yang tangguh. Tak pernah menangis. Tiap akhir bulan, Khalis memberikan uang untuk jatah membayar sewa kosnya. Hingga setelah kenaikan tingkat pertama Andin dapat beasiswa di Baituz Zakat. Hal ini lantaran nilainya yang luar biasa. Ia berhasil mengantongi nilai jayyid jiddan di tahun pertamanya.
“Benar apa kata kakak. Setiap musibah, jika memang seorang tabah menghadapinya, Allah pasti menggantikan kegembiraan yang lebih besar dari musibah itu,” kata Andin waktu itu.
“Ya sudah, yang penting kamu belajar yang serius sekarang. Tak perlu mikir uang lagi kan? Kalau memang kurang, telpon atau SMS kakak, insya Allah kakak bantu.”
“Terimakasih, Kak.. Saya kira, beasiswa dari Baituz Zakat saja sudah amat cukup. Apalagi saya diterima di asrama Jam’iyah Syari’yah.”
“Oh ya, kamu diterima di Jam’iyah Syar’iyah juga? Asrama putri yang di Asyir itu? Subhanallah.. Wah, bisa belajar tenang dong.. Hehee..”
Mereka sama-sama tersenyum. Senyum yang mereka sendiri tak tahu arti senyum itu.
Khalis masih termangu di atas sajadahnya. Sementara adzan subuh tiba-tiba menggema dari menara-menara masjid seantero Kairo. Memanggilnya untuk datang.
* * * * * *

Pagi itu, ketika ia mengemasi barang-barangnya, tiba-tiba Andin beserta teman-teman satu asrama datang.
“Wah, yang mau pulang ke Indonesia... Kok nggak bilang-bilang?”
Khalis hanya nyengir. “Kok bawa pasukan segala?”
“Iya. Kan mau bantuin Kakak. Mungkin aja bisa nitip untuk ibuku?”
“Ya sudah silahkan masuk...”
Para gadis itu masuk ke rumah Khalis yang kecil dan acak-acakan. Mereka kemudian memilih barang-barang besar untuk dimasukkan ke koper. Kemudian baru barang-barang kecil. Setelah berkemas, Khalis tiba-tiba mendekat Andin, “Boleh kakak bicara denganmu bentar?”
“Boleh silahkan saja, Kak..”
Khalis garuk-garuk kepala, “Jika di balkon, boleh?”
Andin memandangi satu persatu teman-temannya. Mereka nyengir. Tapi kemudian paham. “Boleh.. Ada apa si Kak? Kok kayaknya penting banget.”
Si Reta nyahut, “Andin, kerudungmu dibenerin dulu tu... Masa sama Kakak S.2 gitu penampilannya.”
“Ih, apa si kamu!”
Reta dehem-dehem. Dengan kesal Andin meninggalkan mereka.
Di balkon, angin musim panas mendesau. Kering disertai debu. Jalan di depan apartemen rumah itu hanya beberapa mobil. Musim panas sedang menjelang. Tangan Khalis mencengkram pembatas balkon.
“Katanya mau ngomong? Kok diam?”
Khalis garuk-garuk kepala, “Oh iya..”
“Ya udah, sok atuh..”
Khalis menarik napas, “Kamu kan tahu, kakak sudah selesai tamhidi duanya? Kamu juga tahu sebentar lagi kakak mau nulis thesis? Kemarin pas bapakku nelpon, beliau ingin aku cepet nikah. Bahwa kalau sudah siap lahir batin, rasul juga menganjurkan umatnya untuk nikah. Kamu juga tahu sendiri rasul bersabda, kebanyakan penduduk neraka itu para bujangan.”
Andin mengangguk-angguk mendengar penuturan Khalis. Tiba-tiba ia dibuat dag-dig-dug. “Lalu apa hubungannya denganku, Kak?”
“Mm.. gini lho, Nok... waktu haji kemarin, kakak dapat tawaran menikahi putri orang kaya di Jawa Tengah. Pengusaha Biro Haji dan Umrah Ar Rahman, Solo. Orangnya baik. Tapi putrinya tidak. Menurutmu?”
Mata Andin tiba-tiba membola, “Sambar aja, Kak!”
“Nikah itu kan bukan setahun dua tahun. Meski kaya raya, tapi agamanya nggak baik, kan perlu dipikirkan juga. Rasul saja bersabda nikahilah perempuan karena agama. Karena itu akan menjagamu.”
Andin meremas tangannya. Terik matahari malah membuatnya gelisah.
“Sebenarnya dari dulu, ada satu nama di hati kakak. Tapi mungkin karena kakak nggak berani ngomong, sampai sekarang mungkin dia nggak tahu.”
“Siapa itu kak?”
“Kamu.”
Mata Andin kemudian berkaca-kaca. Ia tahu tak percaya apa yang didengarnya. Di hatinya seperti ada gerimis di tengah terik.
“Ah, lupakan sajalah, Nok, jika emang kakak salah. Maafkan kakak ya..” Khalis berbalik. Hatinya tak menentu. Tapi ada kata hati lain yang mengatakan, hatinya sudah lega. Meski tidak tahu jawaban yang akan keluar dari Andin.
“Kakak jangan pergi dulu. Kakak tahukan arti ucapan tadi?”
Ia urung berbalik.
“Kakak sudah sudah yakin.. sudah yakin dengan pilihan kakak tadi?”
“Maksudmu? Kamu setuju nikah denganku Nok?”
Andin tersenyum. Namun hatinya masih tak menentu.
“Ya sudah, kalau memang kakak sudah yakin, pulang nanti lamar Andin lewat Ibu.”
“Kamu serius, Nok? Ah, jangan main-main ah.. Kakak udah tua, lho.. Dibanding denganmu kakak empat tahun lebih tua.”
“Ah, itu nggak masalah. Aisyah sama nabi juga jauh umurnya.”
“Tapi aku bukan nabi, Nok..”
“Alhamdulillah kalau gitu... Heehee..”
Secepatnya Khalis merogoh Hp di celananya dan memencet nomor. “Assalamu’alaikum.. Pak Naryo..? Ini Khalis Pak.. Pak mohon maaf, saya tidak bisa menerima tawaran bapak. Sekali lagi mohon maaf Pak.. Mohon maaf.. Wassalamu’alaikum.” Ditutupnya Hp dengan penuh rasa gemetar melihat bidadarinya yang sebentar lagi ia nikahi.

Kairo, 12 Mei 2009.

Penulis adalah Ketua FLP Mesir yang juga penulis novel “Mengapung Bersama Nil”

Baca Selengkapnya...