Dalam Bayangan Cinta Arif Friyadi
Dzikir malam Khalis kali ini sangat panjang. Do’a demi do’a mengalir dari mulutnya. Hatinya benar-benar membuncah rasa galau yang tak terperikan. Sesekali ia terisak, menangis dan tak kuat menahan lelehan air matanya yang mengalir. “Tunjukkan aku jalan-Mu ya Rabb... Tunjukkan aku jalan-Mu yang Kau ridlai..,” pintanya sambil tengadah terisak-isak. Malam telah larut. Hanya denting jam yang terasa kencang, disertai desau angin musim panas yang memukuli jendela kamarnya.
“Aku mohon Allahku.. Jika Engkau menghendaki salah satu dari mereka menjadi malaikat yang akan selalu menemani langkahku, dalam suka duka, maka tunjukkan padaku wahai Pencipta rindu.” Malam itu, ia dibayang-bayangi dua perempuan anggun. Andin gadis yang selalu menjadi buah bibir mahasiswa Indonesia di Mesir. Bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi prestasi serta semangatnya dalam berbagai organisasi membuatnya benar-benar menjadi bidadarinya mahasiswi Indonesia di Mesir. Sementara itu, sepotong wajah lain juga membayanginya. Dialah Rima, putri Ketua Biro Haji Jawa Tengah. Ia kenal saat haji tahun ini. Lewat kesantunan Khalis dan rasa amanah yang selalu tampak dari wajahnya membuat Pak Naryo betul-betul ingin menyandingkan putrinya dengan Khalis. Sampai di Kairo, tiap minggu Khalis pasti ditanyai tentang keputusannya. “Pokoknya Nak Khalis jika ingin apa saja minta sama bapak. Pasti bapak kasih.” Suatu ketika juga Pak Naryo bilang, “Gimana, Nak Khalis? Apa sudah dipikirkan matang-matang?” Atau, “Saya ingin sekali Nak Khalis yang meneruskan Biro Haji dan umrah milik Bapak. Yang penting Nak Khalis nikah dengan putri saya dulu. Biar nanti si Rima menemani Nak Khalis di Kairo sampai selesai Master.” Ia masih terpekur di atas sepotong sajadahnya. Suara-suara itu seperti berdengungan di telinganya. Seperti datang dari tempat yang jauh. Dari negeri antah berantah. Tiba-tiba Hpnya berdering. Ada SMS masuk. Dibukanya. “Kk Khalis, dah mkn belum? Jg keshtn y..Jgn lupa bljrny. Emmmuuuuuach...” Ia beristighfar dalam hati. Kenapa setiap membaca SMS Rima ia selalu gelisah. Ia tahu meski itu hanya SMS, tapi kenapa harus ada cium-ciuman segala? Padahal hubungan sebelum menikah itu diharamkan agama. Ia kembali beristighfar. Ia ingat lagi Andin, Sekretaris Wihdah itu. Gaya bicaranya yang sangat lembut dan sopan. Pakaiannya yang selalu anggun. Bahkan ia tak pernah memakai celana meski dalam suasana apapun. Serta kecerdasannya yang sangat luar biasa. Di tahun ketiganya, Andin mengejutkan dengan prestasi jayyid jiddan di Fakultas Bahasa Arab. Prestasi yang amat sulit didapatkan oleh mahasiswi luar negeri sepertinya. Khalis masih ingat, pada awal tahun Andin di Mesir, bapak Andin meninggal. Setiap kali gundah gulana, pasti Khalislah yang menjadi tempat curhat. Karena di samping dulu Khalis adalah satu almamater di Aliyah Kudus, ia juga kenal akrab keluarga Andin. “Itu semua musibah, Nok . Nyawa, harta dan segala yang ada dalam kehidupan kita ini hanya titipan. Jika Allah memintanya, kita harus mengikhaskan.” “Tapi kenapa harus tahun pertama, Kak? Kenapa Allah tidak meminta waktu aku sudah lulus nanti? Setelah aku menjadi Ustadzah seperti yang Bapak inginkan sebelum aku berangkat? Kenapa harus saat ini?” “Itu karena Allah ingin mengukur sampai mana iman kamu. Bukankah kamu tahu, rasul kehilangan bapaknya sebelum beliau lahir di dunia ini. Dan ketika ia masih sangat kecil, Ibunda Rasul juga meninggal. Beliau sebatang kara. Tapi beliau tak mengeluh. Beliau tetap semangat menjadi pengembala domba, menjadi pedagang antar negara di Jazirah Arab, bahkan menjadi nabi panutan umat sedunia, Nok. Dan kamu, sudah amat dewasa saat ditinggal bapakmu. Kamu juga sudah mengerti hitam putih kehidupan ini. Maka seharusnya, kamu lebih yakin bahwa setiap musibah Allah juga akan menggantikannya dengan kegembiraan.” “Kegembiraan apa, Kak?! Apa kegembiraan ketika saya di sini dilepas tanpa sepeser pun uang dari ayahanda yang saya cintai? Apa itu kegembiraan ketika mati masih meninggalkan lima anak yang masih kecil?” “Astaghfirullah... Istighfar, Nok? Kita tak tahu apa yang terjadi nanti, bukan? Kau tahu, betapa pilunya rasul ketika ditinggal pamannya yang selalu menolong beliau dari setiap perilaku keji kafir Quraisy? Lalu beliau juga ditinggal istri serta wanita pertama dalam kehidupannya, yaitu saiyadatina Khadijah. Perempuan yang tak pernah lelah mencurahkan kasih sayang, cinta bahkan harta untuk perjuangan Rasul. Perempuan yang ketika rasul tidak dipercayai, beliau pertama yang datang dan percaya atas kerasulan beliau. Perempuan yang rela hidup miskin dalam bayang-bayang kematian, pemboikotan kafir Quraisy. Padahal semua tahu, ia adalah putri keturunan bangsawan dan seorang Bisnis Girl tanah Arab waktu itu. Subhanallah.. Apa engkau tahu betapa pilunya Rasul? Ia juga sangat pilu sepertimu. Tapi setelah itu rasul mendapat kegembiraan berupa Isra’ mi’raj. Pergantian yang sangat tidak sebanding karena bertemu dengan Dzat Allah yang Maha Agung.” Sejak saat itu, Andin berubah menjadi gadis yang tangguh. Tak pernah menangis. Tiap akhir bulan, Khalis memberikan uang untuk jatah membayar sewa kosnya. Hingga setelah kenaikan tingkat pertama Andin dapat beasiswa di Baituz Zakat. Hal ini lantaran nilainya yang luar biasa. Ia berhasil mengantongi nilai jayyid jiddan di tahun pertamanya. “Benar apa kata kakak. Setiap musibah, jika memang seorang tabah menghadapinya, Allah pasti menggantikan kegembiraan yang lebih besar dari musibah itu,” kata Andin waktu itu. “Ya sudah, yang penting kamu belajar yang serius sekarang. Tak perlu mikir uang lagi kan? Kalau memang kurang, telpon atau SMS kakak, insya Allah kakak bantu.” “Terimakasih, Kak.. Saya kira, beasiswa dari Baituz Zakat saja sudah amat cukup. Apalagi saya diterima di asrama Jam’iyah Syari’yah.” “Oh ya, kamu diterima di Jam’iyah Syar’iyah juga? Asrama putri yang di Asyir itu? Subhanallah.. Wah, bisa belajar tenang dong.. Hehee..” Mereka sama-sama tersenyum. Senyum yang mereka sendiri tak tahu arti senyum itu. Khalis masih termangu di atas sajadahnya. Sementara adzan subuh tiba-tiba menggema dari menara-menara masjid seantero Kairo. Memanggilnya untuk datang. * * * * * * Pagi itu, ketika ia mengemasi barang-barangnya, tiba-tiba Andin beserta teman-teman satu asrama datang. “Wah, yang mau pulang ke Indonesia... Kok nggak bilang-bilang?” Khalis hanya nyengir. “Kok bawa pasukan segala?” “Iya. Kan mau bantuin Kakak. Mungkin aja bisa nitip untuk ibuku?” “Ya sudah silahkan masuk...” Para gadis itu masuk ke rumah Khalis yang kecil dan acak-acakan. Mereka kemudian memilih barang-barang besar untuk dimasukkan ke koper. Kemudian baru barang-barang kecil. Setelah berkemas, Khalis tiba-tiba mendekat Andin, “Boleh kakak bicara denganmu bentar?” “Boleh silahkan saja, Kak..” Khalis garuk-garuk kepala, “Jika di balkon, boleh?” Andin memandangi satu persatu teman-temannya. Mereka nyengir. Tapi kemudian paham. “Boleh.. Ada apa si Kak? Kok kayaknya penting banget.” Si Reta nyahut, “Andin, kerudungmu dibenerin dulu tu... Masa sama Kakak S.2 gitu penampilannya.” “Ih, apa si kamu!” Reta dehem-dehem. Dengan kesal Andin meninggalkan mereka. Di balkon, angin musim panas mendesau. Kering disertai debu. Jalan di depan apartemen rumah itu hanya beberapa mobil. Musim panas sedang menjelang. Tangan Khalis mencengkram pembatas balkon. “Katanya mau ngomong? Kok diam?” Khalis garuk-garuk kepala, “Oh iya..” “Ya udah, sok atuh..” Khalis menarik napas, “Kamu kan tahu, kakak sudah selesai tamhidi duanya? Kamu juga tahu sebentar lagi kakak mau nulis thesis? Kemarin pas bapakku nelpon, beliau ingin aku cepet nikah. Bahwa kalau sudah siap lahir batin, rasul juga menganjurkan umatnya untuk nikah. Kamu juga tahu sendiri rasul bersabda, kebanyakan penduduk neraka itu para bujangan.” Andin mengangguk-angguk mendengar penuturan Khalis. Tiba-tiba ia dibuat dag-dig-dug. “Lalu apa hubungannya denganku, Kak?” “Mm.. gini lho, Nok... waktu haji kemarin, kakak dapat tawaran menikahi putri orang kaya di Jawa Tengah. Pengusaha Biro Haji dan Umrah Ar Rahman, Solo. Orangnya baik. Tapi putrinya tidak. Menurutmu?” Mata Andin tiba-tiba membola, “Sambar aja, Kak!” “Nikah itu kan bukan setahun dua tahun. Meski kaya raya, tapi agamanya nggak baik, kan perlu dipikirkan juga. Rasul saja bersabda nikahilah perempuan karena agama. Karena itu akan menjagamu.” Andin meremas tangannya. Terik matahari malah membuatnya gelisah. “Sebenarnya dari dulu, ada satu nama di hati kakak. Tapi mungkin karena kakak nggak berani ngomong, sampai sekarang mungkin dia nggak tahu.” “Siapa itu kak?” “Kamu.” Mata Andin kemudian berkaca-kaca. Ia tahu tak percaya apa yang didengarnya. Di hatinya seperti ada gerimis di tengah terik. “Ah, lupakan sajalah, Nok, jika emang kakak salah. Maafkan kakak ya..” Khalis berbalik. Hatinya tak menentu. Tapi ada kata hati lain yang mengatakan, hatinya sudah lega. Meski tidak tahu jawaban yang akan keluar dari Andin. “Kakak jangan pergi dulu. Kakak tahukan arti ucapan tadi?” Ia urung berbalik. “Kakak sudah sudah yakin.. sudah yakin dengan pilihan kakak tadi?” “Maksudmu? Kamu setuju nikah denganku Nok?” Andin tersenyum. Namun hatinya masih tak menentu. “Ya sudah, kalau memang kakak sudah yakin, pulang nanti lamar Andin lewat Ibu.” “Kamu serius, Nok? Ah, jangan main-main ah.. Kakak udah tua, lho.. Dibanding denganmu kakak empat tahun lebih tua.” “Ah, itu nggak masalah. Aisyah sama nabi juga jauh umurnya.” “Tapi aku bukan nabi, Nok..” “Alhamdulillah kalau gitu... Heehee..” Secepatnya Khalis merogoh Hp di celananya dan memencet nomor. “Assalamu’alaikum.. Pak Naryo..? Ini Khalis Pak.. Pak mohon maaf, saya tidak bisa menerima tawaran bapak. Sekali lagi mohon maaf Pak.. Mohon maaf.. Wassalamu’alaikum.” Ditutupnya Hp dengan penuh rasa gemetar melihat bidadarinya yang sebentar lagi ia nikahi.
Kairo, 12 Mei 2009.
Penulis adalah Ketua FLP Mesir yang juga penulis novel “Mengapung Bersama Nil”
|