Kamis, 28 Mei 2009

Dikotomi Sastra Islam?


Sering kali dalam acara pelatihan menulis di Kairo, saya ditanyatai tentang perbedaan sastra Islami ataupun lain Islami. Beberapa penanya malah sempat melontarkan gagasan bahwa sastra itu haram, karena di samping membohongi publik, sastra juga memunculkan imajinasi yang susah ditangkap manusia. Lalu benarkah Islam mengharamkan sastra?
Sastra Islam.
Sebelum kita membahasa tentang sastra Islam, lebih dahulu kita mengenal sastra Jahili, karena perkembangan sastra Islam itu didasari dengan sastra Jahili yang lebih dulu berkembang sebelum datangnya Islam di Jazirah Arab.

Dalam Tarikhul Adab Fakultas Bahasa Arab Univ. Al Azhar, yang kebetulan saya di fakultas itu, sastra Arab berkembang jauh sebelum ratusan tahun Islam datang. Beberapa tokoh penyair kenamaan waktu itu dijuluki sebagai Al Mu'allaqat (yang digantungkan). Mu'allaqat berarti juga syair yang digantungkan di atas Ka'bah. Pada zaman Jahiliyah dulu, seorang penyair yang menang dalam sayembara sastra di Pasar Ukadz maka akan mendapatkan gelar Mu'allaqat. Dan sajak-sajaknya digantungkan di ka'bah sebagai hiasan dan pajangan. Beberapa sastrawan Islam menyebutkan MU'allaqat itu hanya ada 7 penyair saja; di antaranya, Nabighah Adzibyani, Al A'sya, Syanfari dan lain-lain.

Dalam perkembangannya sastra Jahili hanya berkutat pada beberapa metode sastra yang biasa diklarifikasi sebagai berikut;
1. Keindahan sastra yang ditampakkan
2. Kelihaian penyair dalam menyifati seorang
3. Jika menyifati seorang perempuan akan menyifati sampai melewati hal-hal yang tabu dan terkesal porno.
4. Jika syair kebanggaan, sastra Arab terkesan terlalu mendewakan orang yang dibanggakan itu
5. Setting tempat biasanya menggambarkan sahara, kuda, arak dan wanita.

Setelah datangnya Islam di tanah Arab, Nabi Muhammad menghimbau pada segenap sahabat dan pengikutnya untuk tidak menjadikan kebiasaan orang Jahili sebagai kebiasaan Islam. Meski berawal dari sedikit demi sedikit, akhirnya kebiasaan jahili pun dapat terkikis habis. Di sini bisa kita teleti bahwa kebiasaan itupun juga mempengaruhi perkembangan sastra. Nabi pun melarang sahabatnya untuk membuat syair yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti risa' (syair untuk kesedihan), thalalul Mar'ah (penyifatan perempuan) dan syair-syair dengan setting minuman keras dan lain-lain.

Hal yang menarik dalam syair Islami adalah:
1. sastra Islami terkesan beradab, dalam artian tidak selalu dengan bahasa yang melangit seperti yang ditemui dalam sastra Jahili.
2. Sastra Islami juga mengharamkan penyifatan perempuan dengan keseksiannya.
3. Sastra Islami berawal dari syari'at Islam.
4. Sastra Islami tidak terlepas dari AL Qur'an dan Al Hadist.
5. Sastra Islami muncul sebagai ketidakpuasan sastra Jahili yang parah dan tidak mendidik.
6. Sastra Islami mau mencounter masalah demi masalah yang ada pada waktu itu.

Dalam sejarah sastra banyak kalangan menilai sastra Islami adalah sastra yang mendidik juga sastra yang mampu membalikkan keadaan dari keterpurukan pada keindahan ISlam yang sesungguhnya. Beberapa tokoh penyair kenamaan waktu itu bisa kita sebutkan; Hasan Bin Tsabit, Abdullah Bin Rawwahah, Mu'an Bin Aus dan yang lain.

Dari sudut lain, jika kita sudah mengenal sastra Islami dengan beberapa sudut pandang sejarah, kita juga mengenal sastra Islami dari sudut pandang agama. Dalam Asy Syu'ara' Allah dengan jelas mengharamkan syair jahili. Jika sudah tahu tentang dua ide dari sastra Jahili dengan sastra Islami, apakah sebagai insan yang suka dalam dunia sastra, kita masih mendebat dikotomi sastra Islam? Ataukah kita malah mengemukakan pendapat bahwa sastra itu tetap haram? Itu terserah pribadi masing-masing. Wallahu a'lam.


Penulis novel "Mengapung Bersama Nil" dan juga Ketua FLP Mesir.


0 komentar: